Jumat, 15 Januari 2010

Mengenai fenomena ini, ilustrasi yang paling tepat adalah dari tulisan Seno Gumira Ajidarma di Majalah Tempo:

Mengenai fenomena ini, ilustrasi yang paling tepat adalah dari tulisan Seno Gumira Ajidarma di Majalah Tempo:

Seberapa pun kecil publik film pendek ini, sedikit demi sedikit tercipta sebuah potensi pasar. Mereka bergabung ke dalam pasar yang diciptakan fraksi perlawanan: Partai Rakyat Demokratik didirikan tanpa menunggu izin pemerintah; kelompok musik Slank menjadi fenomenal tanpa perlu restu God Bless; Ayu Utami menyodok kemunafikan dalam sastra Indonesia dengan keterbukaan perbincangan seks yang sulit dituduh sebagai pornografi; Yudhi Soerjoatmodjo menggalang dan mendidik para fotografer yang menolak foto-foto salon hingga mengubah wajah fotografi Indonesia masa kini – maka, publik Jakarta pun siap untuk sebuah Jakarta International Film Festival (Jiffest) yang merupakan revolusi para penonton dalam arti sesungguhnya, yakni para penonton yang menolak dominasi wacana. Terlihat jelas, inisiatif tidak datang dari “insan film” ataupun pemilik bioskop. Gerakan ini datang dari suatu generasi penonton yang masih terus melahirkan sineasnya sendiri. Tidak terlalu mengherankan bahwa para sineas yang dilahirkan oleh semangat ini juga berperan sebagai produser.” (Selama Film Setan Masih Ditonton, Majalah Tempo edisi 13-19 Desember 2004.)

Tidak ada komentar: