Jumat, 15 Januari 2010

Mengenai fenomena ini, ilustrasi yang paling tepat adalah dari tulisan Seno Gumira Ajidarma di Majalah Tempo:

Mengenai fenomena ini, ilustrasi yang paling tepat adalah dari tulisan Seno Gumira Ajidarma di Majalah Tempo:

Seberapa pun kecil publik film pendek ini, sedikit demi sedikit tercipta sebuah potensi pasar. Mereka bergabung ke dalam pasar yang diciptakan fraksi perlawanan: Partai Rakyat Demokratik didirikan tanpa menunggu izin pemerintah; kelompok musik Slank menjadi fenomenal tanpa perlu restu God Bless; Ayu Utami menyodok kemunafikan dalam sastra Indonesia dengan keterbukaan perbincangan seks yang sulit dituduh sebagai pornografi; Yudhi Soerjoatmodjo menggalang dan mendidik para fotografer yang menolak foto-foto salon hingga mengubah wajah fotografi Indonesia masa kini – maka, publik Jakarta pun siap untuk sebuah Jakarta International Film Festival (Jiffest) yang merupakan revolusi para penonton dalam arti sesungguhnya, yakni para penonton yang menolak dominasi wacana. Terlihat jelas, inisiatif tidak datang dari “insan film” ataupun pemilik bioskop. Gerakan ini datang dari suatu generasi penonton yang masih terus melahirkan sineasnya sendiri. Tidak terlalu mengherankan bahwa para sineas yang dilahirkan oleh semangat ini juga berperan sebagai produser.” (Selama Film Setan Masih Ditonton, Majalah Tempo edisi 13-19 Desember 2004.)

Pertanyaan, tanya kenapa?

Pertanyaan, tanya kenapa?

Berikut ini adalah daftar pertanyaan yang wajib di pertanyakan sesudah menonton sebuah film?

• apa persoalan utama atau fokus film? apakah pada Plot, karakter, emosi, ide, atau yang lain.
• Jika film berputar pada satu karakter unik, jelaskan ke unikan karakter tersebut?
• Jelaskan Mood atau efek emosional yang mendominasi keseluruhan film?
• apa yang ingin di capai oleh pembuat film ? memberikan hiburan semata, menunjukan arah kebenaran hidup, propaganda, mengkritik sifat manusia atau lembaga pemerintahan, dll.
• pesan apa yang ingin di sampaikan oleh film tersebut?
• apakah tema yang di angkat menarik secara moral atau membosankan?
• apa yang membuat film ini masuk akal/ logis?
• apa yang membuat film ini menari untuk di tonton? di mana letak titik menariknya? dapatkan anda menyebutkannya lebih dari 5?
• apa yang membuat film ini membosankan? dimana titik membosankan itu? dapatkah anda menyebutkan lebih dari 5?
• apakah film ini berhasil menjelaskan apa yang ingin di sampaikan? apakah anda mengerti keseluruhan cerita? kalo tidak, kenapa? dimana letak kesalahannya?
• jika di film ini mengunakan flash back (kilas balik) apa kegunaanya? apakah pengunaanya efektif?
• simbol-simbol apa saja yang digunakan di film ini? apakah simbol ini mewakilkan atau tidak?
apakah pengunaan simbol efekti?
• apakah film mengunakan simbol universal?
• bagaimana hubungan simbol dengan tema film?
• siapa saja tokoh utama dalam film ini? apakah tokoh statik atau dinamis? tokoh-tokoh mana saja yang dinamis? kenapa?
• karakter mana yang realistik? kenapa?
• apakah setting membantu memperkuat, menciptakan karakter?
• karakter mana yang non realistik (di lebih-lebihkan) , kenapa?
• apakah motivasi masing-masing karakter masuk aka? kalo tidak kenapa?
• tokoh pembantu mana yang menonjolkan ciri-ciri tokoh utama?
• apakah musik (sound effec) berperan besar dalam penciptaan karakter? kenapa?
• apa konflik utama film ini ?
• apakah konflik bersifat internal? eksternal? atau kombinasi? kenapa?
• bagaimana hubungan konflik utama dengan tema cerita?
• apakah seting berperan penting dalam menciptakan konflik?
• kenapa sutradara memilih setting A bukan B untuk film ini?
• apakah setting memperkuat suasana emosional?
• apakah ada ciri-ciri yang membuat setting bersifat simbolik?
• kenapa judul film harus seperti itu? apa arti dalam konteks keseluruhan film?
• apakah judul mengingatkan anda pada adegan kunci pada film?
• bagaimana hubungan judul dengan tema maupun pesan film?


Sejarah "singkat" Film Pendek

Sejarah "singkat" Film Pendek

Film pendek… seperti yang kita tahu ini adalah salah satu bentuk film paling simple tapi juga paling kompleks. Film pendek pada awal berkembangnya sempat dipopulerkan oleh komedian macam Charlie Chaplin.
Pada tahun 30an, film pendek sempat mengalami kisruh. Perusahaan film besar yang memproduksi film pendek memanfaatkannya untuk tujuan komersil. Perusahaan film yang memiliki jaringan bioskop sendiri seringkali menjual film pendek ini pada bioskop-bioskop lain dan film tersebut dijual dalam satu paket yang mengharuskan bioskop-bioskop tersebut juga menayangkan feature yang mengkomersilkan nama perusahaan tersebut. Pada akhirnya kualitas film pendek pun jadi merosot.
Praktek ini disebut block booking dan pada akhirnya dinyatakan illegal oleh US Supreme Court. Dengan dikeluarkannya kebijakan tersebut, film pendek kembali populer. Sejak saat itu, film pendek adalah sepenuhnya lahan milik para sineas independent. Produsen film besar juga masih memproduksi film pendek, namun hanya untuk special project dan bukan untuk tujuan komersil.

Pada tahun 50an, film pendek mulai merasuki pertelevisian. Bentuk film pendek yang populer ditayangkan di televisi waktu itu (bahkan sampai sekarang) adalah kartun yang menampilkan karakter unik. Pada akhir 60an, film pendek di layar lebar dinyatakan menghilang dari layar lebar.
Pada tahun 1980, definisi durasi dari film pendek berubah menjadi 40-80 menit. Mendekati film durasi normal. Yang tetap membedakan film pendek adalah topiknya yang rumit. Kini banyak dbuat festival sebagai ajang ekspresi para pembuat film pendek. Bersamaan dengan menjamurnya festival film pendek, popularitas film pendek juga meroket dan menuai antusiasme para sineas amatir.
Biaya rendah yang dibutuhkan untuk membuat film pendek adalah alasan utama untuk memilih bentuk film ini sebagai pembelajaran bagi pemula, namun bukan berarti semua film pendek adalah kacangan dan tidak berkualitas. [rad]


"Sekilas" Alfred Hitchcock

"Sekilas" Alfred Hitchcock

Alfred Hitchcock adalah seseorang yang dianggap sebagai salah satu sutradara terbesar dan paling berpengaruh sepanjang masa khususnya untuk genre suspense. Ia telah menyutradarai lebih dari 50 film, dan itu dimulainya sejak era film bisu di Inggris pada tahun 1920an.
Cerita-cerita yang digarap Hitchcock sering kali dikaitkan dengan pengalamannya di masa remaja tepatnya dengan ”sistem pendidikan” yang diterapkan ayahnya. Ayah Hitchcock sering kali menyuruh Hitchcock kecil ke kantor polisi setempat sambil membawa sebuah notes dari ayahnya.
Setelah polisi membaca notes tersebut, Hitchcock dimasukkan ke penjara selama beberapa menit. ”Sistem pendidikan” ini seringkali terlihat menjadi sumber inspirasi di banyak film Hitchcock yaitu keberadaan tokoh otoriter yang tidak dapat dipercaya, baik sebagai orang tua atau sebagai polisi.
Banyak film-filmnya yang mengandung unsur tematik yang mirip, yaitu seorang tokoh protagonis dituduh melakuka tindak kriminal dan harus mencari jalan untuk membuktikan bahwa ia tidak bersalah. Atau tema lain lagi, seorang protagonis yakin bahwa ia telah melakukan sebuah tindak kriminal, dan disebutkan kemudian bahwa indak kriminal itu dilakuan dalam keadaan tidak sadar atau karena memang direncanakan oleh orang lain sehingga si protagonis percaya bahwa dia sendiri pelakunya. Tema ini pertama kali ia aplikasikan di film “The Lodger.”
Untuk selanjutnya Hitchcock pun mulai memasukan unsur humor dalam filmnya dan film tersebut mendapat sambutan positif dari para kritikus film. Film apa itu dan bagaimana ceritanya, simak di artikel berikutnya.

Setelah ia sukses di era film bisu dengan tema khas yang selalu bisa ditemukan dalam banyak film karyanya, kemudian dunia perfilman masuk ke era ”film berbicara”.
Para kritikus film memuja filmnya yang berjudul “39 Steps”, salah satu film masterpiece Alfred Hitchcock di awal era film berdialog. Sekali lagi film ini menampilkan protagonis tak bersalah yang berpikir bahwa dirinya adalah seorang kriminil. Namun kali ini Hitchcock banyak memasukkan unsur humor, dan ini kemudian akan banyak ditemukan di film-film Hitchcock.
Untuk kedepannya, Hitchcock banyak menampilkan “gallow humor” atau humor yang berhubungan dengan kematian dalam film-filmnya, walaupun tidak semuanya disampaikan dengan cara yang pantas. Banyak yang mengaggap Alfred hitchcock lebih bagus saat menyampaikan komedi ringan daripada gallow humor.
Tahun 1940an ia pindah ke California dimana ia bertemu dengan David Selznik yang akan menjadi partnering directornya kemudian. Salah satu karya dari kerja sama ini adalah film Rebecca yang berhasil menyabet Academy Award. Hitchcock juga sempat bekerja sama dengan Cary Grant, Ingrid Bergman, dan Gregory Peck.
Alfred Hitchcock sendiri memfavoritkan karyanya yang berjudul ”Doubt”, menurutnya ini adalah film yang sangat menegangkan yang menyentil keberadan incest di sebuah kota kecil yang suram. Film itu menampilkan Joseph Cotton yang berkarakter multi-layered.
Tapi bagi banyak Orang, ”Psycho” (1960) adalah film yang paling seram dan menegangkan. Tapi ternyata studio produksi film tersebut tidak terlalu ingin memblow-up adegan klasik pembunuhan di shower. Adegan pembunuhan itu mungkin terlihat lebih bagus karena diambil dalam black and white. Ini lah film pertama Hitchcock yang menampilkan kekerasan secara langsung. Di film-film selanjutnya seperti ”Frenzy”, Hitchcock mulai bayak menampilkan kekerasan dan nudity.
Film-film yang direkomendasikan oleh para fans Hitchcock antara lain ”The 39 Steps”, ”Life Boat”, ”Rear Window”, ”Vertigo”, ”North by Northwest”, ”The Birds”, dan ”Psycho”. Di luar itu, paa fans Hitchcock tidak akan ragu untuk mengatakan film-film lain dari Hitchcock adalah yang terbaik.


"Sekilas" Poster

"Sekilas" Poster

Movie Poster dari Masa ke Masa
Movie poster adalah alat promosi utama yang diterbitkan oleh studio film. Bioskop yang memutar sebuah film biasanya memasang poster ukuran raksasa film tersebut di luar gedung untuk menarik perhatian calon penonton. Sedangkan poster berukuran lebih kecil diletakkan di dalam loby bioskop. Setelah masa tayang film di bioskop telah usai, movie poster biasanya menjadi barang berharga para kolektor, sering kali diproduksi ulang untuk memenuhi permintaan pencinta film.
Movie poster dulu memiliki standar khusus. Biasanya gambar yang ditampilkan adalah snapshot dari adegan di film tersebut. Biasanya gambar yang diambil adalah dari adegan yang menampilkan semua karakter dalam film, atau adegan yang merupakan plot penting. Sedangkan untuk text copy-nya, hampir sama seperti standar poster modern. Porsi terbesar didapat oleh judul film, diiringi dengan deskripsi singkat. Nama studio dan sutradara akan muncul dengan huruf kecil.
Contohnya: ”Maxfield Studios presents H.B. Dunwoody’s CRY OF THE WILDEBEAST, a gripping tale of life and death in the Alaskan Wilderness!”

Ketika peran actor dalam kesuksesan sebuah film menjadi makin berpengaruh, movie poster sering kali jadi menampilkan potret pemeran utamanya. Pemeran pendamping dan original soundtrack juga turut ditampilkan.
Pada era 1950, movie poster sudah dianggap sebuah bentuk seni. Bahkan untuk cinema-cinema yang bernuansa artistik, sering membuat khusus poster movie dengan basis seni abstrak atau konseptual. Format copy-nya pun mulai berkembang menjadi contohnya seperti berikut: “SEE the unbridled passion! FEEL the undeniable attraction! FEAR the power of GORGON, the Monster BEYOND the EARTH!”
Perkembangan movie poster membuatnya kurang bombastis dan lebih artistik. Poster modern lebih sering menampilkan satu gambar iconic yang mendefinisikan tema dasar film, seperti logo kelelawar hitam khas Batman untuk movie poster film Batman. Judulnya pun akan diubah format tulisannya menjadi sebuah fonts khusus untuk menciptakan mood tertentu. Dalam poster modern, text copy dibuat sesingkat mungkin.

Sejarah "singkat" Special Effect

Sejarah "singkat" Special Effect

Teknik special effect di masa awal-awalnya, terlihat palsu dan konyol. Misalnya untuk karakter monster dalam film The Seven Voyages of Sinbad and Jason and the Argonauts. Di film ini, monster digambarkan terlalu kaku dan tampil terlalu ”manusiawi” secara visual. Hal itu membuat penampilan monster tidak menakutkan.
Stop action, kemudian disusul oleh teknik go motion yang dipelopori oleh George Lucas. Dalam teknik ini, model digerakkan selama clicks. Namun hasilnya adalah gambar yang buram, namun impresi realistisnya lebih kena. Lucas pertama kali mencoba teknik ini di film ”Dragonslayer” keluaran tahun 1981.
Namun teknik stop action dan go motion secara cepat tersingkir oleh teknik computer animation. Rilis film ”Jurassic Park” pada tahun 1993 yang banyak mengunakan computer animation untuk menggerakan dinosaurus, menginspirasikan banyak sutradara lain untuk membuat special effect menggunakan computer animation.

Perkembangan special effect menggunakan computer animation sangat pesat. Buktinya bisa kita lihat di film Lord of The Ring yang menampilkan karakter Gollum. Gollum yang digarap dengan computer animation terlihat sangat hidup dalam berinteraksi dengan tokoh lainnya.
Special effect sampai saat ini masih terus berkembang. Seakan-akan apapun bisa terjadi di dalam film. Kalau mau lihat perbandingan jelasnya lihat lah film King Kong. Dua film berjudul sama yang diproduksi di jaman berebeda. Mana karakter Kong yang lebih hidup? Thanks to special effect.

"Sekilas" Film Noir

"Sekilas" Film Noir


Film noir dideskripsikan sebagai film yang tampil dengan suasana gelap. Noir adalah kata dalam bahasa Perancis yang berarti hitam. Film noir muncul pada tahun 1940, namun istilah noir sendiri baru dimunculkan oleh para kritikus film setelah Perang Dunia II.
Setelah perang usai, kritikus film asal Perancis melihat sebuah perubahan pada film-film Amerika. Banyak film yang tidak lagi bernuansa cerah seperti sebelum perang. Film-film kebanyakan jadi cenderung memiliki suasana gelap dan pesimistis. Seperti Hollywood baru menyadari kerasnya kehidupan di dunia dan kengerian yang dihasilkan oleh perang.
Film noir menampakan sisi lain dari kehidupan. Pahlawan yang terkalahkan, manusia yang manipulatif, dan agenda politis yang tersembunyi, semuanya ditampakkan. Lighting yang digunakan dalam film Noir selalu gelap, menciptakan bayangan panjang, dan atmosfir klaustropobik.
Fatalisme banyak mempengaruhi plot-plot dalam film noir. Para pahlawan seperti berada dalam jalur menuju kehancuran mereka. Sebagian besar dari hal ini kebanyakan erat kaitannya dengan femme fatale. Femme fatale adalah potret wanita yang belum pernah terlihat sebelumnya. Mereka sangat menarik bagi protagonis pria. Mereka bisa menyebabkan pria untuk membunuh siapapun demi si wanita. Korban pembunuhan kebanyakan adalah istri si pria. Kini di film noir, peran gender sudah berubah, wanita biasanya memiliki karakter yang lebih kuat, kadang menjadi antagonis.

Film noir mengalami penurunan pada akhir 1950an. Cara pandang orang Amerika kembali menjadi lebih cerah dan film bernuansa gelap tak lagi banyak digemari. Televisi masuk ke kehidupan, acara-acara komedi dan musik Elvis Presley menggantikan popularitas film noir.
Memasuki tahun 70an, film noir mulai bangkit kembali. Feminisme mulai mencuat, dan pemerintah sekali lagi digambarkan sebagai pihak yang tidak dapat dipercaya. Film-film bertema perang Vietnam dan skandal Watergate banyak bermunculan. Contoh kebangkitan film noir dapat kita lihat pada film-film seperti Taxi Driver, Chinatown, Body Heat, Bladerunner, dan The Last Seduction. Kalau di Indonesia, contoh film noir bisa kita lihat pada film Kala.